Hadis Sabar, Tawakal, dan Iman Membangun Ketahanan Mental Gen-Z di Era Digital Part-2

Keteguhan Iman sebagai Fondasi Stabilitas Pribadi

Iman adalah fondasi yang menentukan arah hidup manusia. Rasulullah SAW bersabda:

أَبُو هُرَيْرَةَ رفعه: ((الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى الله مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِالله وَلا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ الله وَمَا شَاءَ فَعَلَ. فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ))، لمسلم 

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada setiap orang ada kebaikan. Bersemangatlah pada apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu merasa lemah. Dan jika sesuatu menimpamu, maka janganlah kamu mengatakan, 'Seandainya saya melakukan ini, maka akan seperti ini dan itu', tetapi katakanlah, 'Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi', karena sesungguhnya (kata 'law') membuka jalan bagi perbuatan setan.” (HR. Muslim)

Dan Allah berfirman dalam surat Ar-Ra’d ayat 28 :

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ۝٢٨

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.”

Dua dalil ini menegaskan bahwa kekuatan seorang mukmin bukan hanya fisik, tetapi keteguhan iman, tekad, dan orientasi hidup yang jelas. Menurut Syekh Shalih Al-Fauzan, mukmin yang kuat adalah yang teguh pada kebenaran dan tidak mudah goyah.

Dalam perspektif psikologi, iman memberikan sense of meaning, sense of purpose, dan sense of coherence, tiga komponen penting resiliensi. Iman membantu Gen Z menerima takdir tanpa kehilangan semangat, bangkit dari kegagalan, serta tidak mudah terseret oleh tekanan sosial dan standar dunia maya.

Dengan demikian, keteguhan iman menjadi fondasi terdalam yang mengarahkan tujuan hidup, membentuk cara pandang positif terhadap ujian, serta menjaga stabilitas emosi di tengah ketidakpastian. 

Jika sabar menguatkan kemampuan mengendalikan diri dalam menghadapi tekanan, dan tawakal menghadirkan ketenangan setelah usaha dilakukan, maka iman menetapkan arah yang kokoh agar manusia tidak kehilangan makna dan harapan. 

Ketiga nilai ini saling melengkapi secara harmonis dan membentuk model resiliensi spiritual yang utuh. Integrasi sabar, tawakal, dan iman melahirkan kekuatan batin yang membuat individu mampu bertahan, bangkit, dan tumbuh melalui kesulitan, bukan sekadar menghindarinya.

Integrasi Tiga Nilai (Sabar–Tawakal–Iman) Sebagai Model Resiliensi Spiritual

Integrasi nilai sabar, tawakal, dan iman membentuk pola coping Islami yang utuh dalam menghadapi tekanan hidup. Sabar berperan sebagai kontrol diri untuk menahan reaksi emosional impulsif, tawakal menghadirkan ketenangan batin setelah usaha dilakukan, sedangkan iman memberikan makna dan arah hidup agar seseorang tidak mudah putus asa. 

Ketiga nilai ini saling melengkapi dan menjadi fondasi ketahanan mental yang kuat. Dalam konteks kesehatan mental, sabar membantu individu mengendalikan stres dan emosi negatif, tawakal mengurangi kecemasan berlebih dan overthinking, sementara iman menjaga harapan serta stabilitas emosional. 

Kombinasi ini tidak hanya menenangkan jiwa, tetapi juga menumbuhkan kemampuan untuk bangkit dari tekanan dan kegagalan. Internalisasi ketiga nilai tersebut dapat diwujudkan melalui praktik harian seperti memperkuat ibadah, journaling syukur, membangun lingkungan pertemanan yang agamis nan suportif, serta mengonsumsi konten Islami yang positif. 

Dengan demikian, sabar, tawakal, dan iman menjadi model resiliensi spiritual yang relevan bagi Gen Z dalam menghadapi tantangan era digital. Krisis kesehatan mental yang dialami Generasi Z bukan sekadar persoalan individual, tetapi fenomena sosial yang memerlukan solusi komprehensif. 

Metode penyembuhan modern dan strategi pengelolaan stres memang penting, namun tidak cukup untuk membangun ketahanan psikologis yang mendalam tanpa dukungan nilai spiritual. Hadis-hadis Nabi Muhammad saw. memberikan fondasi kuat bagi terbentuknya resiliensi spiritual melalui nilai sabar, tawakal, dan keteguhan iman.

Sabar memperkuat kemampuan mengendalikan diri dalam menghadapi tekanan dan kegagalan. Tawakal menghadirkan ketenangan batin dengan menyeimbangkan usaha dan penyerahan hasil kepada Allah, sehingga mengurangi kecemasan berlebih. 

Sementara itu, iman memberikan arah hidup, makna atas setiap ujian, serta kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan. Ketika ketiga nilai ini terintegrasi, terbentuklah model coping Islami yang membuat Gen Z mampu bertahan, berkembang, dan tetap optimis dalam menghadapi tantangan zaman digital.

Oleh karena itu, sudah saatnya generasi muda menjadikan sabar, tawakal, dan iman bukan hanya konsep keagamaan, tetapi gaya hidup yang diinternalisasi dalam setiap aktivitas. Hadis bukan sebatas teks normatif, tetapi sumber kekuatan psikologis yang aplikatif untuk menciptakan pribadi yang tangguh, stabil, dan berdaya. 

Dengan resiliensi spiritual sebagai pijakan, Gen Z dapat melangkah lebih percaya diri dalam membangun masa depan dan menggapai prestasi terbaik tanpa kehilangan ketenangan jiwa.

Sahabat Muhammad Jalaluddin Rumi

Kader PMII Rayon Pendidikan Agama Islam Komisariat Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan  Cabang Ciputat 

Editor: Sahabati Fitri Yanti

Posting Komentar

0 Komentar