Generasi muda saat ini hidup di tengah tekanan psikologis yang kompleks. Tuntutan akademik, ekspektasi keluarga, budaya produktivitas, serta perbandingan sosial melalui media digital membuat Gen Z rentan mengalami stres, kecemasan, burnout, dan kehilangan ketenangan batin.
Istilah seperti overthinking dan FOMO bukan lagi tren, tetapi gejala nyata dari krisis kesehatan mental. Penelitian Sugiyanto (2025) dalam artikel “Resiliensi Gen Z Lebih Rendah?” menegaskan bahwa tingkat resiliensi Gen Z lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya karena belum matangnya pengalaman, regulasi emosi yang tidak stabil, serta kemampuan problem solving yang belum optimal.
Temuan ini sejalan dengan penelitian Intan Triastuti dkk. (2024) yang menunjukkan bahwa media sosial berkontribusi signifikan terhadap meningkatnya stres pada remaja dan mahasiswa akibat perfeksionisme, fear of failure, dan kebutuhan untuk tampil sempurna.
Berbagai metode self-healing yang populer di media digital memang dapat membantu sementara, tetapi tanpa penguatan spiritual, ketahanan mental sulit dibangun secara mendalam. Dalam Islam, kesehatan mental tidak terpisah dari kesehatan spiritual.
Alquran dan hadis menawarkan nilai-nilai yang meneguhkan mental sabar, tawakal, dan iman sebagai fondasi ketenangan jiwa dan orientasi hidup. Nilai-nilai inilah yang paling relevan bagi Gen Z dalam menghadapi tekanan era digital.
Survei Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2023 menunjukkan peningkatan signifikan kasus kecemasan dan depresi pada remaja, terutama pada mereka yang menghabiskan waktu lebih dari tiga jam per hari di media sosial. Temuan serupa dari Pew Research Center (2023) mengungkap bahwa 46% remaja merasa terbebani oleh tuntutan untuk tampil sempurna di ruang digital.
Kondisi ini menegaskan bahwa tekanan psikologis pada Gen Z bukan sekadar fenomena sosial individual, melainkan isu kesehatan mental yang serius dan membutuhkan strategi penanganan yang lebih mendalam serta berperspektif spiritual.
Sabar dalam Hadis sebagai Kontrol Emosi
Konsep sabar dalam Islam menggambarkan kemampuan mengelola emosi dan merespons keadaan secara terukur. Rasulullah SAW bersabda:
وعَنْ أَبِي مَالِكٍ الحَارِثِ بْنِ هَاشِمٍ الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ قَالَ: الصَّلَاةُ نُورٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ. رواه مسلم
Dari Abu Malik al-Harits bin Hasyim al-Asy’ari (radhiyallahu ‘anhu), bahwa Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda: “Salat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, dan sabar adalah sinar.” [HR Muslim.]
Sabar digambarkan sebagai sinar karena menerangi batin dan membimbing manusia keluar dari gelapnya emosi yang tidak terkendali. Ibnu Miskawaih dalam Tahdzīb al-Akhlāq wa Tathhīr al-A‘rāq menjelaskan bahwa sabar adalah kemampuan menahan jiwa ketika menghadapi sesuatu yang tidak disukai agar tetap berada dalam batas keseimbangan.
الصبر هو ضبط النفس عند نزول المكروه، حتى لا يخرجها عن حد الاعتدال
“Sabar adalah kemampuan menahan jiwa ketika menghadapi hal yang tidak disukai, agar tidak keluar dari batas keseimbangan.”
Makna ini diperkuat oleh sabda Nabi SAW:
ليس الشديدُ بالصُّرَعَةِ، إنما الشديدُ الذي يملكُ نفسهُ عند الغضبِ رواه البخاري ومسلم
“Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa sabar bukan sikap pasif, melainkan tindakan aktif menjaga keseimbangan jiwa sehingga akal berada di depan emosi. Dalam perspektif psikologi, karakter sabar berkaitan dengan self-regulation, yaitu kemampuan mengendalikan pikiran, perasaan, dan tindakan untuk tujuan jangka panjang. Sabar membantu Gen Z mengelola penggunaan media digital, menghadapi kegagalan akademik dengan bijak, serta menjaga ketenangan dalam dinamika sosial.
Dengan demikian, setelah kesabaran mengokohkan kontrol diri, tahap berikutnya dalam resiliensi spiritual adalah tawakal, yaitu penyerahan hati sepenuhnya kepada Allah setelah usaha maksimal dilakukan. Tawakal menghadirkan ketenangan batin dan membebaskan seseorang dari kecemasan berlebih terhadap hasil yang berada di luar kendalinya.
Tawakal sebagai Mekanisme Meredam Kecemasan
Tawakal merupakan konsep spiritual yang sangat relevan dalam menghadapi kecemasan modern. Rasulullah SAW bersabda:
قال لو أنكم توكلون على الله حق توكله لرزقكم كما يرزق الطير تغدو خماصا وتروح بطانا رواه الإمام أحمد والترمذي والنسائي وابن ماجه وابن حبان والحاكم
"Sungguh seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezekinya burung-burung. Mereka berangkat pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang" (HR. Ahmad, Turmudzi, Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban AL-Hakim)
Hadis ini menegaskan bahwa tawakal adalah keseimbangan antara usaha maksimal dan keyakinan penuh bahwa hasil berada di tangan Allah. Alquran mengulang perintah tawakal sebanyak sebelas kali dan selalu diiringi perintah berikhtiar.
Maka tawakal bukan pasrah tanpa usaha, tetapi ketenangan setelah ikhtiar. Dalam perspektif psikologi, tawakal menurunkan anticipatory anxiety, mengurangi overthinking, dan membantu fokus pada proses, bukan pada hasil yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.
Bagi Gen Z, tawakal menjadi penyeimbang di tengah budaya kompetitif dan tekanan pencapaian, membangun growth mindset, dan menghadirkan ketenangan batin ketika hasil tidak sesuai harapan.
Fenomena perfeksionisme akademik terlihat jelas melalui tren yang viral di platform TikTok pada tahun 2023-2024 awal, di mana banyak mahasiswa Gen Z membagikan nilai indeks prestasi semester mereka dalam format video kreatif sebagai bentuk pencapaian.
Meski tampak sebagai motivasi positif, tren tersebut pada kenyataannya memunculkan tekanan sosial dan kecemasan bagi sebagian mahasiswa lain yang merasa tidak mampu mencapai standar serupa. Tidak sedikit di antara mereka yang mengalami stres, rasa takut gagal, hingga menilai harga diri berdasarkan angka akademik.
Dalam situasi seperti ini, tawakal menjadi mekanisme penting yang membantu individu untuk fokus pada usahaq terbaik tanpa menjadikan hasil sebagai penentu nilai diri.
Setelah tawakal menghadirkan ketenangan hati dalam menghadapi hasil, fondasi berikutnya untuk menjaga stabilitas emosi adalah keteguhan iman yang memberi arah hidup dan makna atas setiap peristiwa.
Sahabat Muhammad Jalaluddin Rumi
Kader PMII Rayon Pendidikan Agama Islam Komisariat Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Cabang Ciputat
Editor: Sahabat Rakan Abdel Jabar

0 Komentar