Bersuci dalam Perspektif Hukum dan Spiritualitas Islam : Tafsir Tahlili QS. Al-Mā’idah [5]: 6

Pendahuluan

Q.S. Al-Mā’idah ayat 6 merupakan ayat fundamental dalam fikih ibadah, khususnya terkait thahārah sebagai prasyarat sah salat. Ayat ini tidak hanya mengatur tata cara wudhu dan tayammum secara teknis, tetapi juga mengandung dimensi teologis, spiritual, dan kemanusiaan. Para mufasir lintas zaman membaca ayat ini sebagai titik temu antara hukum, kemudahan, dan etika ibadah (al-Ṭabarī 2001; al-Qurṭubī 1964; Quraish Shihab 2005).

Ayat Dan Terjemahan QS. Al-Maidah Ayat 6

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُۗ مَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ 

Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki. Jika kamu dalam keadaan junub, mandilah. Jika kamu sakit, dalam perjalanan, kembali dari tempat buang air (kakus), atau menyentuh perempuan, lalu tidak memperoleh air, bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menjadikan bagimu sedikit pun kesulitan, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu agar kamu bersyukur. 

Kajian Kebahasaan Ayat

Frasa idhā qumtum ilā al-ṣalāh secara nahwu terdiri dari idhā sebagai ẓarf syarṭ, qumtum sebagai fi‘l māḍī syarṭ, dan ilā al-ṣalāh sebagai jar-majrūr. Kata qāma dalam penggunaan Arab klasik tidak selalu bermakna berdiri secara fisik, melainkan bermakna “berkehendak” atau “bersiap melakukan sesuatu”, sebagaimana ditegaskan oleh al-Rāghib al-Aṣfahānī dalam Mufradāt Alfāẓ al-Qur’ān. Dengan demikian, ayat ini menunjukkan bahwa wudhu dilakukan sebelum memulai salat, bukan ketika telah berada di dalam salat (al-Aṣfahānī 2009).

Perintah faghsilū wujūhakum menggunakan bentuk fi‘il amr yang secara ushul menunjukkan kewajiban. Kata wajh secara bahasa berarti bagian depan yang tampak, dan dalam terminologi fikih dibatasi dari tempat tumbuh rambut hingga dagu dan dari telinga ke telinga (Ibn Manẓūr 1990). Demikian pula perintah membasuh tangan ilā al-marāfiq, di mana huruf ilā dipahami oleh jumhur ulama sebagai batas yang termasuk ke dalam hukum, diperkuat oleh praktik Nabi yang membasuh hingga melewati siku (al-Zamakhsyarī 2005).

Pada perintah wam’saḥū bi-ru’ūsikum, huruf ’ menjadi titik perbedaan pendapat ulama. Sebagian memaknainya sebagai tab‘īḍ (sebagian), sementara yang lain memaknainya sebagai ilṣāq (melekatkan). Perbedaan ini melahirkan ragam pandangan mazhab tentang kadar minimal usapan kepala dalam wudhu (al-Farrā’ 1983).

Adapun frasa wa arjulakum ilā al-ka‘bayn memiliki dua qirā’ah utama: nashab dan jar. Meskipun qirā’ah jar memberi kesan pengusapan, mayoritas ulama menetapkan kewajiban membasuh kaki berdasarkan sunnah fi‘liyyah Nabi dan konteks keseluruhan ayat (Ibn al-Jazarī 1999).

Asbāb al-Nuzūl dan Prinsip Rukhsah

Ayat ini turun dalam konteks peristiwa hilangnya kalung ‘Aisyah ketika rombongan Nabi kehabisan air. Dalam kondisi tersebut, Allah menurunkan ketentuan tayammum sebagai bentuk keringanan syariat (al-Suyūṭī 2004). 

Riwayat lain menegaskan bahwa tayammum juga disyariatkan bagi orang sakit yang jika menggunakan air justru membahayakan kondisi tubuhnya (al-Wāḥidī 1991). Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal, syariat Islam dibangun di atas prinsip taysīr (kemudahan), bukan ta‘assur (kesulitan).

Munāsabah Ayat

QS. Al-Mā’idah dikenal sebagai surah hukum. Ayat 6 memiliki keterkaitan tematik dengan ayat sebelumnya yang membahas makanan halal dan thayyib. Jika ayat sebelumnya berbicara tentang kesucian konsumsi, maka ayat ini berbicara tentang kesucian pelaku ibadah. Al-Biqā‘ī melihat keterkaitan ini sebagai kesinambungan antara kebersihan lahiriah dan kesiapan spiritual (al-Biqā‘ī 2007).

Penafsiran Para Mufasir

Al-Ṭabarī menegaskan bahwa perintah wudhu dalam ayat ini bersifat wajib dan tidak dapat di-takwil sebagai sunah. Menurutnya, tayammum bukan sekadar pengganti air, melainkan ibadah tersendiri yang disyariatkan sebagai rahmat bagi umat (al-Ṭabarī 2001).

Ibn Kathīr menguatkan penafsiran ayat ini dengan deretan hadis sahih tentang tata cara wudhu Nabi, terutama riwayat dari ‘Utsman bin ‘Affān dan ‘Ali bin Abi Ṭālib. Baginya, ayat dan sunnah saling melengkapi secara harmonis (Ibn Kathīr 1999).

Al-Qurṭubī memberikan perhatian besar pada dimensi fikih ayat ini. Ia membahas secara rinci batas anggota wudhu, perbedaan qirā’ah pada kata arjulakum, serta hukum tayammum dan medianya. Dalam banyak hal, ia menegaskan bahwa praktik Nabi menjadi penentu akhir dalam perbedaan pendapat (al-Qurṭubī 1964).

Sayyid Qutb membaca ayat ini dari sudut pandang ruhani. Baginya, wudhu adalah latihan spiritual untuk menundukkan ego dan mempersiapkan jiwa sebelum berdiri di hadapan Allah. Ia menekankan frasa mā yurīdu Allāhu liyaj‘ala ‘alaykum min ḥaraj sebagai fondasi humanisme syariat (Qutb 2003).

Quraish Shihab menegaskan keseimbangan antara dimensi lahir dan batin dalam wudhu. Ia mengaitkan tayammum dengan maqāṣid al-syarī‘ah, khususnya perlindungan jiwa (ḥifẓ al-nafs), sehingga hukum ibadah tidak boleh berujung pada mudarat (Shihab 2005).

Wahbah al-Zuḥailī memaparkan ayat ini melalui pendekatan fikih perbandingan. Ia menilai bahwa perbedaan mazhab dalam masalah wudhu adalah perbedaan metodologi istidlāl, bukan konflik prinsip. Bahkan, ia menyinggung manfaat higienis wudhu sebagai bukti harmoni antara syariat dan kesehatan (al-Zuḥailī 2012).

Kontekstualisasi Ayat

Dalam konteks modern, wudhu dapat dipahami sebagai etika kebersihan dan disiplin tubuh di tengah kehidupan urban yang penuh polusi dan tekanan psikologis. Tayammum, di sisi lain, menunjukkan sensitivitas Islam terhadap krisis air dan kondisi ekologis. Ayat ini menegaskan bahwa keselamatan manusia lebih diutamakan daripada formalitas ritual (al-Qaraḍāwī 2007; Auda 2008).

Lebih jauh, konsep thahārah dalam ayat ini membangun budaya ibadah yang beradab. Seorang Muslim tidak hanya hadir secara fisik di hadapan Tuhan, tetapi juga hadir dengan kesiapan moral dan spiritual (Nasr 2000).

Kesimpulan

Q.S. Al-Mā’idah ayat 6 merupakan ayat komprehensif yang memadukan hukum, ritual, spiritualitas, dan kemanusiaan. Wudhu adalah kesiapan lahir dan batin, tayammum adalah manifestasi rahmat syariat, dan keseluruhan ayat ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menyeimbangkan kewajiban ibadah dengan realitas hidup manusia (Kamali 2003).

Referensi

Al-Aṣfahānī, al-Rāghib. 2009. Mufradāt Alfāẓ al-Qur’ān. Beirut: Dār al-Qalam.

Al-Biqā‘ī. 2007. Naẓm al-Durar fī Tanāsub al-Āyāt wa al-Suwar. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Farrā’. 1983. Ma‘ānī al-Qur’ān. Baghdad: Dār al-Ma’mūn.

Al-Qaraḍāwī, Yusuf. 2007. Fiqh al-Ṭahārah. Doha: WAMY.

Al-Qurṭubī. 1964. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Cairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah.

Al-Rāzī, Fakhr al-Dīn. 1997. Al-Tafsīr al-Kabīr. Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth.

Al-Suyūṭī. 2004. Lubāb al-Nuqūl fī Asbāb al-Nuzūl. Beirut: Dār al-Fikr.

Al-Ṭabarī. 2001. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Beirut: Dār al-Fikr.

Al-Wāḥidī. 1991. Asbāb al-Nuzūl. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Auda, Jasser. 2008. Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law. London: IIIT.

Al-Zamakhsyarī. 2005. Al-Kashshāf ‘an Ḥaqā’iq al-Tanzīl. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Zuḥailī, Wahbah. 2012. Al-Tafsīr al-Munīr. Damascus: Dār al-Fikr.

Ibn al-Jazarī. 1999. Al-Nashr fī al-Qirā’āt al-‘Ashr. Damascus: Dār al-Qalam.

Ibn Kathīr. 1999. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Beirut: Dār Ṭayyibah.

Ibn Manẓūr. 1990. Lisān al-‘Arab. Beirut: Dār Ṣādir.

Kamali, Mohammad Hashim. 2003. Principles of Islamic Jurisprudence. Cambridge: Islamic Texts Society.

Nasr, Seyyed Hossein. 2000. Ideals and Realities of Islam. Chicago: Kazi Publications.

Qutb, Sayyid. 2003. Fī Ẓilāl al-Qur’ān. Cairo: Dār al-Shurūq.

Shihab, M. Quraish. 2005. Tafsir al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.

Sahabat Ahmad Azmi Firosh

Kader PMII Rayon Al-Harokah Komisariat Kebayoran Lama Cabang Jakarta Selatan 

Editor: Sahabati Fauziah Nur Hasanah

Posting Komentar

0 Komentar